Tentang Kami

Sejarah

H. Umar Sewet muda merupakan sosok pemuda aktif dan berpikiran maju meski hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR). Kondisi desanya, Teluk Dalem, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, yang merupakan salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Pulau Lombok menjadi sumber inspirasi utamanya untuk menjadi pengusaha kelapa dan kopra.

Naluri wirausahanya tergerak saat melihat kelapa butir dalam jumlah besar jika  diolah menjadi kopra, maka pendapatan yang diperoleh akan lebih tinggi. Selain itu, ia ingin bisa menciptakan lapangan kerja terutama bagi tetangganya yang banyak hidup dalam kemiskinan di tengah sumber daya alam yang melimpah.

Berbekal tekad dan keinginan tersebut, pada tahun 1975, H. Umar Sewet  mulai mewujudkan keinginannya dengan meminjam modal dari seorang tetangganya. Modal tersebut dipergunakannya untuk membeli kelapa dan mengolahnya menjadi kopra. Pada awal usahanya, ia hanya mampu mempekerjakan 4 orang tenaga kerja. Pembagian tugas untuk tiap tenaga kerja didasarkan pada keahlian yang dimilikinya. Semua tenaga kerjanya adalah laki-laki yang bertanggung jawab dalam proses pengupasan buah, pencungkilan daging buah, penjemuran dan pengasapan.

Meski usahanya masih tergolong baru tapi hasil produksinya saat itu sudah mampu mencapai 15 ton kopra kering per bulan. Jumlah ini merupakan produksi yang cukup besar dibandingkan dengan pengusaha lain yang ada di desanya. Dengan dukungan bahan baku kopra yang sangat mudah diperoleh dan tersedia sepanjang tahun menjadikan usahanya berjalan makin lancar.

Selain itu, bapak dari 3 orang anak ini tidak pernah takut untuk mengambil risiko dalam pengembangan usahanya. Baginya, risiko adalah bagian dari proses yang harus dijalani dan bukan untuk dihindari. Meski tidak pernah mengecap pendidikan tinggi, kemampuannya dalam mengelola usahanya tidak perlu diragukan lagi. Hal ini terbukti dari usahanya yang makin berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Tak hanya itu, dengan ketekunan dan semangat belajarnya yang tak pernah putus, ia berhasil mengembangkan jaringan pemasaran kelapa dan kopra hingga ke Pulau Jawa dengan memberikan kualitas dan harga bersaing. Pengusaha minyak goreng dari pulau-pulau tersebut mengakui bahwa tingkat kekeringan kopra yang dihasilkannya sangat baik sehingga dapat menghasilkan minyak dengan kualitas tinggi.

Sejalan dengan berkembangnya usaha kelapa dan kopra yang dimilikinya, ia pun kembali tergerak saat melihat gunungan tempurung kelapa di pabriknya yang belum dimanfaatkan. Biasanya serabut kelapa sebagai limbah kopra dijual ke pengusaha lokal yang terdapat di desanya. Serabut tersebut diolah menjadi keset yang dijual ke desa di luar Tanjung bahkan sampai ke tingkat kabupaten dan kota. Berbeda dengan serabut kelapa, tempurung kelapa dihargai sangat rendah. Sehingga, Pak H. Umar Sewet memutuskan untuk mengolah sendiri tempurung tersebut menjadi arang dengan harapan akan memperoleh nilai tambah yang lebih baik.